Skip navigation

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia berbicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menumbuhkan dan memangkasmu
Mengangkatmu naik, membela ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

….

Awalnya gw rada enggak setuju dengan perkataan Gibran ini.. Namun karena secercah kilasan pemikiran saat gw sedang chat dengan saudari Nida, gw pun bisa memahami kedalaman makna dari Sang Nabi ini! hehe..

Cinta itu memang bisa membuat kita tumbuh, sekaligus memangkas kita.. Jatuh cinta adalah pengalaman yg sangat manis, segalanya menjadi indah, perasaan melambung2, dan daya tahan tubuh kita pun meningkat saat itu.. Namun cinta menyimpan pisau di dalamnya.. bisa menusuk siapa saja yang tidak berhati2 dengannya..

Broken heart karena cinta adalah hal yg silly.. ah silly kurang tepat, mungkin lebih tepatnya goblog!!haha.. selaras dengan pernyataan David Viscott dalam bukunya “Emotional Resilience”.. Saat membahas loss karena broken heart Pak Viscott ini malah mencak2, kontras sekali dengan pembahasan ttg jenis2 loss yg lain..

Kalo ga salah yah, seinget gw dia menulis, “Are you so silly, so crazy, so blind, so stupid bla-bla-bla”

Dia berkata bahwa sebaiknya sebelum masuk dunia cinta kita harus memasang palang dengan tulisan yg besar dan jelas, “PLEASE, BE CAREFULL!!”

Bila sampai patah hati, itu karena kobodohan sendiri..

Kembali ke point awal, yupz, namun dibalik penderitaan karena cinta, penderitaan itu justru bisa “mengangkatmu naik” kita bisa tumbuh karenanya.. Asal saja kita bisa mengambil makna dan pelajaran dari hal tsb..

Anyway, soal cinta dari sisi lain, gw baru aja baca komik Tapak Budha, di dalamnya ada seorang karakter yg berkata, “Engkau telah mencampakkan aku selama puluhan tahun. Aku sangat2 membencimu karenanya. Namun semakin aku membencimu, semakin aku merasakan cinta yang mendalam terhadapmu. Aku mencintaimu melalui rasa benci ku.”

Co cwiit!! haha

Oh iya, gw masih berpegang teguh prinsip: Benci adalah salah satu indikasi dari cinta

Love and hate is not different. That is the same feeling.

(Ellie Wiesel – salah satu manusia yg selamat dr tragedi Holocaust-Nazi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: